Zaman sekarang telah banyak masyarakat menggunakan smartphone. Dengan penggunaan smartphone ini banyak yang merasakan kemudahan, namun juga banyak yang mengeluhkannya. Penggunaan memang tergantung pada orang yang menggunakannya, namun bagaimana dengan pelajar? Apakah sudah pasti para pelajar memanfaatkan smartphone untuk belajar? Belum tentu, saya telah meneliti penggunaan smartphone oleh pelajar.
Dari pihak yang mengeluhkan adalah
pihak orang tua, sebagian memang senang dengan adanya smartphone namun orang
tua yang kurang senang dengan kedatangan smartphone juga tidak sedikit. Orang
tua yang senang dengan adanya smartphone beranggapan bahwa mereka dapat
berkomunikasi dengan orang yang jauh, bukan hanya bertukar kabar melalui sms
melainkan juga dapat mendengar suara, dan melihat wajahnya. Sedangkan orang tua
yang kurang senang dengan kedatangan internet ini yaitu diakibatkan karena
smartphone yang mengganggu proses belajar anaknya, bahkan bukan hanya belajar
untuk menjawab obrolan singkat dengan orang tua pun mereka tak bisa.
Kemudian sebenarnya apa yang menjadi
permasalahan smartphone bagi manusia, khususnya pelajar? Pertama, smartphone
yang berisi konten chat dapat mengurangi minat seseorang untuk bertemu secara langsung.
Kebanyakan akan memilih untuk mengobrol melalui telepon pintar ini, disebabkan
karena beberapa alasan.
Tersenyum melalui emoticon, tak
heran sekarang banyak emoticon bermunculan baik secara paid maupun free. Karena
penggunaan emoticon semakin melonjak. Berhubungan dengan hal emoticon,
smartphone juga dapat menurunkan sikap jujur. Di keadaan yang sebenarnya
seseorang berucap A namun dia mengetikkan B, di keadaan sebenarnya dia
mempunyai keadaan yang baik – baik saja namun dia mengirim emoticon sad. Apakah
hal semacam itu dibutuhkan? Tidak, bahkan sangat tidak perlu.
Kemudian, untuk pelajar biasanya
lebih menyukai menyisihkan uang saku demi kuota daripada untuk makan. Apakah
kuota data mengenyangkan? Memang tidak, naamun jika dierhatikan pelajar akan
merasa lebih tenang saat memiliki kuota.
Point budaya selanjutnya yaitu
berjalan menunduk, tidak tegap ke depan hal itu dikarenakan, saat berjalan pun
tetap memperhatikan smartphone. Hal itu dapat merugikan diri sendiri bahkan
orang lain. Sebenarnya apa alasan mereka selalu memperhatikan smartphone?
Karena mereka lebih menyukai dan penasaran dengan dunia luar yang belum mereka
ketahui, selain daripada itu mereka juga dapat memberitahukan keadaannya.
Sebenarnya tidak terlalu diperlukan karena memang kurang berfungsi. Psikolog
mengatakan bahwa orag yang terlalu sering megupload foto selfie nya adalah
orang yang kesepian. Bahkan bukan hanya kesepian saja, orang yang terlalu
sering memperhatikan smartphone juga menginginkan ketenaran instant.
Hal terakhir mengenai poin budaya
teknologi mutakhir ini adalah menyurutkan mental. Mengapa demikian? Karena
zaman sekarang orang lebih berani berbicara di media sosial mental mereka
mengecil saat bertemu atau berbicara secara langsung. Hal itu pula yang
menyebabkan pertengkaran di media sosial, karena satu orang menyindir semua
orang bisa tersindir.
Saya mengambil beberapa sample aplikasi media
sosial yang sering digunakan oleh pelajar. Media sosial yang Saya angkat
sebagai sample yaitu BBM di BBM terdapat RU yang berisi pembaharuan status dari
pemilih akun. Saya meneliti di saat jam belajar diantara pukul 20.00 – 20.30
terdapat 9 orang pelajar yang mengganti display picture atau foto profil.
Kemudian ada 12 pelajar yang mengganti PM atau personal message atau dapat disebut
juga status dari pemilik akun. Selain dari dua hal itu 5 pelajar sedang
mendengarkan lagu, dengan beberapa hal yang menarik tersebut dapat mengganggu
pen gguna akun yang lain.
Komentar
Posting Komentar